Oleh: Abu Ahmad Saif*
Menjelang Muktamar ke 35, yang waktunya sampai detik ini belum jelas, berbagai manuver dilakukan oleh sekelompok pengaku menjaga marwah Nahdlatul Ulama. Berbagai Gerakan ‘anti’ Gus Yahya dilakukan. Bahasa halus disampaikan. Namun dibalik halusnya itu ada motif menjerumuskan pribadi Gus Yahya yang dianggap punya kesalahan besar. Namun himgga kini, tuduhan keji itu tidak bisa dibuktikan secara nyata. Baik Rais Aam atau Sekjen sebagai orang tersorot tidak bisa membuktikan kepada khalayak.
Gus Yahya, hingga detik ini tidak membalas fitnah-fitnah keji itu. Dan, itu harus dilakukan oleh Gus Yahya; Diam, dan fokus berkhidmat untuk Jamiyah Nahdaltul Ulama. Itulah sikap pemimpin sejati. Dituduh apapun tetap menjalin komunikasi dan silaturrahim. Apalagi menjelas Muktamar, Gus Yahya harus lebih istiqomah bekerja untuk program-program PBNU. Biarkan beberapa orang; baik politisi maupun oknum-oknum PBNU sendiri sibuk untuk mendapati simpati dari PWNU dan PCNU se Indonesia.
Saya melihat, hari ini dinamika PBNU cukup dinamis. Namun di berbagai Survie Gus Yahya masih diinginkan banyak warga NU untuk melanjutkan kepemimpinannya. Terobosan-terobosan yang dilakukan sangat tepat sasaran dan sangat dibutuhkan oleh warga NU. Hubungan Gus Yahya dengan dunia internasional cukup membanggakan. Gerakan membangun soliditas organisasi sangat luar biasa. Hanya oknum-oknum yang ‘kolot’ tidak suka dengan terobosan yang dilakukan oleh Gus Yahya, sehingga memunculkan isu-isu kurang etis disematkan kepada Gus Yahya.
NU harus berani bergerak mengimbangi realita perkembangan zaman. Era digital pun harus ditanggapi dengan cerdas. Hal itu sudah dilakukan oleh Gus Yahya dengan Digdaya NU. Sistem yang meyeragamkan NU diseluruh dunia. Tidak lagi berlomba dalam hal seni untuk surat menyurat, semuanya terakomodir lewat Digdaya. Hal itu rupanya diliuar nalar oknum PBNU, yang seakan terganggu dengan kehadiran sang pemikir seperti Gus Yahya. Saya melihat, tuduhan demi tuduhan oleh Oknum Elit PBNU hanya bertjuan menyandra peran Gus Yahya sebagai leader hebat di dunia internasional. Betapapun, gebrakan Gus Yahya lewat kerja kolektif PBNU patut diapresiasi dan harus dilanjutkan dimasa yang akan datang. Tugas Gus Yahya belum selesai. Maka, di Muktamar ke 35 yang akan datang, suka tidak suka Gus Yahya harus didorong untuk berani mewakafkan dirinya guna berkhidmat di PBNU satu periode lagi. Siapapun, untuk satu periode kepemimpin belum cukup untuk mewujudkan kemandirian organisai. Itu alamiah. Maka sangat bijaksana, jika kesempatan khidmat Gus Yahya dilanjutkan.
Mengapa harus Gus Yahya? Secara tegas kami sampaikan; tidak ada sosok pas untuk memimpin PBNU selain Gus Yahya, untuk hari ini. Saya melihat beberapa calon-yang hingga hari ini bersafari mencari dukungan-masih belum ada yang pas. Kiai Zulfa misalnya, sudah sangat salah langkah dengan cara menerima PJ Ketum PBNU. Hal itu dianggap sebagai ambisi pribadi untuk menjadi pimpinan PBNU. Dan lagi, sosok Kiai Zulfa dikenal sebagai sosok alim, yang hanya bisa menjadi pendakwah bukan drever yang lihai dalam menjalankan roda organisasi.
Ada juga Gus Salam Sohib. Beliau jelas cucu Kiai Bisyri Syansuri. Muda dan lincah. Ingat, Gus salam pernah dipecat sebagai PWNU Jawa Timur. Terlepas salah atau tidak, yang jelas beliau punya sejarah dan cacat organisasi. Walaupun secara trah kuat, namun kemampuan dalam menahkodai jamiyah sebesar NU dianggap belum stabil. Emosionalnya mudah meledak. Dan, Gus Salam lebih berdempet dengan salah satu partai politik. Sehingga -walaupun tidak salah secara organisasi- Gus Salam pernah cuti untuk kepentingan Pilkada. Sekali lagi, ini tidak salah secara organisasi, tapi ironi secara pribadi.
Walhasil, Gus Yahya masih layak untuk memimpin PBNU lewat Muktamar ke 35 mendatang. Tugas tugas Gus Yahya harus diselesaikan pada periode kedua ini. Dan, PWNU-PCNU harus lebih cerdas dalam mengambil peran dan menentukan pilihan. Semoga Gus Yahya oleh Allah ditakdirkan lagi, demi Jayanya NU dan mendunia. _Monggo dilanjutkan_!
*Warga NU Madura






