Oleh : Ahmad Syaifullah, M.Akun
Dulu saat mendengar negara Inggris, bayangan kita tertuju pada negeri maju dengan sistem pangan yang mapan, pertanian modern, dan rantai pasok yang rapi. Namun di balik citra itu, ada satu fakta “unik” bahwa Inggris adalah salah satu negara dengan importir pangan terbesar didunia.
Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pangan disebabkan oleh kondisi geografis, iklim, keterbatasan lahan produktif, hingga ketergantungan pada tenaga kerja migran. Jaminan sosial yang baik menyebabkan banyak warga inggris meninggalkan pertanian karena dianggap tidak menguntungkan secara ekonomi, menyebabkan sebagian besar kebutuhan pangan di Inggris mulai dari bahan baku, makanan olahan, hingga produk siap saji, datang dari luar negeri.
Bahkan buah seperti anggur, pisang, jeruk dan aneka sayuran dipasok dari luar negeri. Inilah celah besar yang seharusnya bisa dibaca sebagai peluang oleh Indonesia.
Kebutuhan pangan di Inggris tidak hanya soal beras, gandum, atau daging. Pasar Inggris justru sangat kuat pada produk makanan olahan, makanan ringan, minuman kemasan, dan _ready to eat food._ Pola makan, Gaya hidup masyarakat yang serba cepat membuat produk instan dan praktis menjadi primadona.
Realitas di lapangan, hampir semua supermarket Inggris dipenuhi berbagai merek global mulai dari Asia, Timur Tengah, hingga Amerika Latin. artinya selera konsumen Inggris semakin terbuka terhadap rasa baru, cita rasa unik, dan produk etnik.
Mereka tidak lagi canggung mencoba makanan Asia, termasuk dari Asia Tenggara. Bahkan saat ini memiliki “Rak” khusus makanan dan jajanan dari asia. Hal ini yang menyebabkan permintaan semakin banyak dengan pilihan yang variatif. Di titik inilah produk Indonesia sebenarnya punya posisi strategis.
Produk Indonesia
Indonesia adalah negeri dengan kekayaan produk pangan dan jajanan yang luar biasa. Dari makanan berat hingga camilan ringan, dari rasa manis, asin, gurih, pedas, sampai kombinasi unik yang “nagih”.
Produk seperti Beng-Beng, Tic Tac, kopiko, Yupi, Teh Kotak, Teh Pucuk Harum, Kecab ABC, Indomie dan berbagai jenis makanan instan lainnya, kecap manis khas Indonesia, hingga minuman instan, sesungguhnya punya karakter rasa yang bisa diterima lidah global.
Rasa cokelat Beng-Beng yang renyah, kenyal-manis Yupi, segarnya teh kemasan khas Indonesia, sampai Indomie yang sudah punya penggemar fanatik lintas negara, adalah modal besar untuk masuk pasar Inggris.
Selama ini, sebagian produk Indonesia memang sudah hadir di UK, tapi masih terbatas di toko Asia atau toko komunitas diaspora. Salah satu contoh dan mungkin satu-satunya yang masuk supermarket adalah indomie, walaupun “bukan” produk Indonesia langsung karena dibuat di serbia dan malaysia. Padahal, jika dikemas dengan strategi yang tepat, produk-produk ini bisa naik kelas dan masuk ke supermarket arus utama.
Masyarakat Inggris sebenarnya menyukai produk dengan rasa “fun”, tidak membosankan, dan punya cerita. Jajanan Indonesia memenuhi semua itu. Rasanya asik, variannya banyak, dan punya latar budaya yang kaya. Tinggal bagaimana produk-produk ini dikemas ulang agar sesuai standar dan selera pasar UK tanpa kehilangan identitasnya.
Produk Halal
Salah satu nilai tambah paling kuat dari produk Indonesia adalah label halal. Inggris memiliki populasi Muslim yang besar dan terus bertumbuh. Disisi lain, konsumen non-Muslim pun mulai melihat produk halal sebagai simbol kebersihan, keamanan, dan kualitas. Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap apa yang mereka makan, produk halal menjadi alternatif yang semakin dicari.
Indonesia, sebagai negara dengan ekosistem halal terbesar di dunia, seharusnya berada di barisan depan dalam memenuhi kebutuhan ini. Produk makanan dan minuman Indonesia yang sudah berlabel halal memiliki keunggulan kompetitif yang nyata dibanding banyak produk lain. Maraknya kebutuhan produk halal di Inggris bukan sekadar tren sesaat. Ini adalah perubahan struktural dalam pasar.
Supermarket besar di UK kini menyediakan rak khusus produk halal, baik daging maupun makanan olahan. Namun, produk halal dari Asia Tenggara masih sangat minim dan hampir tidak ada, khususnya Indonesia.
Indonesia punya kekuatan bukan hanya di kehalalan, tetapi juga di variasi rasa dan harga yang kompetitif. Jika dimaksimalkan, produk Indonesia bisa menjadi pilihan baru bagi konsumen Inggris yang ingin makanan halal dengan rasa berbeda dari Timur Tengah atau negara Asia lainnya.
Jika produk Indonesia semakin banyak masuk pasar UK, manfaat ekonominya akan sangat terasa. Dari sisi ekspor, tentu akan ada peningkatan devisa negara. Industri makanan dan minuman di Indonesia, yang menyerap jutaan tenaga kerja, akan mendapatkan pasar baru yang stabil dan besar.
UMKM pangan yang selama ini bergantung pada pasar domestik bisa naik kelas menjadi pemain ekspor. Rantai pasok dari petani, nelayan, hingga pabrik pengolahan akan ikut bergerak. Efek gandanya tidak kecil, terutama bagi daerah-daerah penghasil bahan baku.
Selain ekonomi, ada manfaat “budaya” yang tidak kalah penting. Produk pangan bisa menjadi “duta budaya” yang paling mudah diterima. Orang bisa lupa nama tarian atau sejarah sebuah negara, tapi mereka jarang lupa rasa makanan yang enak.
Ketika masyarakat Inggris terbiasa makan Indomie, minum teh kemasan Indonesia, atau ngemil jajanan khas Nusantara, secara tidak langsung mereka sedang mengenal Indonesia. Dari rasa, lalu muncul rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu, lahir ketertarikan budaya. Ini adalah diplomasi lunak yang bekerja pelan tapi efektif.
Masuknya produk Indonesia ke UK juga bisa memperkuat citra Indonesia sebagai negara modern, kreatif, dan adaptif. Selama ini, Indonesia sering dikenal lewat pariwisata atau isu bahan mentah. Dengan produk pangan olahan yang kuat di pasar UK, narasi itu bisa berubah. Indonesia tidak hanya dilihat sebagai penghasil komoditas, tapi sebagai produsen produk bernilai tambah tinggi. Ini penting untuk posisi Indonesia dalam perdagangan global ke depan.
Peran Pemerintah
Berdasarkan riset sederhana, peluang Indonesia masih terbuka lebar bahkan bisa menjadi alternatif baru dalam rantai pasokan pangan UK. Tentu masuk UK tidak mudah, karena dikenal sebagai negara dengan standart tinggi dan jaringan mitra yang kuat maka dibutuhkan kehadiran negara dalam hal ini, diantaranya adalah:
Pertama, memperkuat diplomasi dagang. Pemerintah perlu aktif membuka jalur “sutra”, memanfaatkan perjanjian perdagangan, dan memastikan produk Indonesia mendapatkan perlakuan yang adil di pasar UK. Sepertinya Inggris lebih fleksibel dalam menyusun kebijakan dagang, mengingat bahwa Inggris senantiasa memastikan stabilitas ketersediaan pangan dalam negeri dan ini seharusnya dimanfaatkan sebagai peluang, bukan ditunggu sambil ragu.
Kedua, pendampingan standar dan sertifikasi. Banyak produk Indonesia sebenarnya enak, berkualitas dan layak masuk pasar global. Namun terkadang terkendala standar khususnya dibeberapa negara eropa, mulai dari food safety, label nutrisi, hingga kemasan ramah lingkungan. Pemerintah perlu hadir bukan hanya sebagai regulator, tapi sebagai pendamping dan pemberi jaminan. Produsen perlu dibantu agar paham standar UK sejak awal.
Ketiga, penguatan branding nasional. Produk Indonesia sering kalah bukan karena rasa, tapi karena cerita dan kemasan. Pemerintah bisa mendorong satu narasi besar, bahwa produk pangan Indonesia itu halal, berkualitas, dan penuh cita rasa. Dukungan dalam pameran internasional, promosi di event perdagangan UK, hingga kerja sama dengan diaspora Indonesia di Inggris bisa menjadi strategi yang efektif.
Keempat, mendorong kolaborasi dengan distributor lokal Inggris, UK. Menembus pasar Inggris saat ini tidak bisa dilakukan sendirian. Manajemen dan jaringan mitra yang terbangun lama, perlu strategi baru dengan melakukan kerjasama dan Bermitra dengan distributor, retailer, atau bahkan brand lokal UK. Hal ini bisa mempercepat terserapnya produk. Pemerintah bisa memfasilitasi pertemuan bisnis, _business matching,_ dan membuka akses jaringan yang selama ini sulit dijangkau oleh pelaku usaha Indonesia.
Kelima, inovasi produk dan kemasan. Pemerintah dapat mendorong riset dan pengembangan agar produk Indonesia lebih sesuai dengan selera pasar UK, misalnya ukuran porsi, kadar gula, atau _allergie issue_ dimana Inggris sangat ketat dalam hal ini. Ini bukan berarti menghilangkan identitas, tapi menyesuaikan tanpa kehilangan karakter. Indomie adalah contoh nyata bahwa adaptasi rasa dan kemasan bisa berjalan seiring dengan identitas asli.
Supermarket di UK, saat ini semakin banyak memajang produk pangan dan jajanan dari Asia. Peluang produk Indonesia masuk ke UK itu nyata dan terbuka lebar. Pasarnya ada, kebutuhannya jelas, identitasnya (halal) teruji, dan produknya sudah siap. Tantangannya bukan pada kemampuan produksi, tapi pada strategi, keberanian, dan konsistensi. Jika pemerintah dan pelaku usaha bisa sinergi dan berjalan searah, produk Indonesia tidak lagi hanya hadir di rak kecil toko Asia, tapi berdiri sejajar di supermarket besar Inggris. Dari sekadar alternatif, menjadi pilihan. Dari pilihan, menjadi kebiasaan. Dan dari kebiasaan, lahirlah hubungan ekonomi dan budaya yang saling menguatkan antara Indonesia dan Inggris dan Eropa.
Disclamer : tulisan ini bukan untuk mendiskriditkan produk tertentu, produk yang disampaikan adalah produk yang pernah ditemui dan tulisan adalah subyektifitas penulis.
*Penulis adalah Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trunojoyo Madura, saat ini tinggal di Inggris, UK





