Tenang dan Sederhana, Sosok Kiai Zulfa di Dambakan Warga Bisa Menjadi Ketua PBNU

oleh -72 views

Oleh: Ahrori Dlofir

 

Hampir disetiap pertemuan dengan warga NU dan pengurus cabang serta MWCNU diberbagai daerah, selalu membicarakan sosok kiai Zulfa. Warga NU yang ikhlas serta beberapa pengurus MWC NU dan ranting sudah familiar dengan nama Kiai Zulfa. Apalagi di zaman serba canggih ini, ceramah ceramah Kiai Zulfa banyak dinikmati oleh khalayak, termasuk Nahdliyyin di Nusantara bahkan di dunia. Ceramahnya datar, tapi banyak penggemar. Bahasanya renyah, tutur katanya ramah. Wawasannya luas, warga NU yang mendengarkan merasa lega. Seakan dibawa ke Samudra keilmuan begitu luas.

 

Populer, iya. Tidak didesain atau malah dibuat-buat. Warga NU mengenal kiai zulfa natural. Murni karena keilmuan dan wawasan. Tidak dengan bisikan untuk dipopulerkan, sebagaimana para tokoh belakangan yang muncul bukan untuk perjuangan, namun untuk satu golongan. Hanya untuk menegaskan identitas, bahwa dirinya adalah satu-satunya sosok pejuang tangguh untuk NU. Padahal gerakannya selama ini hanya sebagai wadah untuk dirinya. Naif.

 

Kiai Zulfa pribadinya sederhana. Pantas saja jika silent majority warga NU berharap Kiai Zulfa sebagai sosok yang pasa untuk memimpin NU. Akal sehat pasti sepakat akan naiknya Kiai Zulfa sebagai pimpinan Jamiyah terbesar didunia ini. Harapan warga NU itu tidak ambigu. Betul-betul ungkapan nurani demi NU kedepan. Rupanya warga NU sudah banyak merasakan akan sebuah kelelahan dengan intrik-intrik PBNU empat tahun terakhir, alurnya menyedihkan. Bahkan berada pada titik nadir.

 

Pasca ditetapkan Gus Yaqut sebagai tersangka oleh KPK, warga NU sangat terpukul. Apalagi GKMNU berada di tangannya Gus Yaqut. Kepercayaan kepada oknum PBNU runtuh seketika. Petinggi PBNU satu persatu diperiksa KPK. Miris. Ditambah lagi, keengganan dari oknum PBNU yang terindikasi terlibat untuk mengundurkan diri dari jabatan ketua PBNU. Jangan hanya berpegang pada kaidah ‘praduga tidak bersalah’. Salah atau tidak, Ketika marwah organisasi tercabik cabik, maka seharusnya gentel dan legowo mengundurkan diri. Ini adalah sejarah terburuk di pengurusan ‘PBNU’.

 

Maka, melihat beberapa kejadian, kemunculan nama Kiai Zulfa dalam bursa Calon ketua umum PBNU adalah sebuah solusi. Dengan seabrek pengalaman dan wawasan yang ditempa oleh Mbah Sahal, tidak mengejutkan jika warga NU sangat berharap agar Kiai Zulfa berkenan dicalonkan sebagai ketua umum PBNU.

 

Rais Syuriyah PCNU Bangkalan juga sesepuh Bani Cholil misalnya, sering mengutip pandangan pandangan yang disampaikan oleh Kiai Zulfa. Hal itu menandakan bahwa Kiai Zulfa sangat diinginkan oleh para ulama dan warga NU untuk memimpin PBNU. Para ulama dan warga NU adalah pemegang saham terbesar di Jamiyah Nahdlatul ulama.

 

Berkenaan dengan hal itu, dari mana sejatinya untuk memiliki pemimpin tertinggi di PBNU dengan sosok yang punya integritas dan kapabilitas? Pertama, Kepada PCNU dan PWNU, untuk bersepakat agar pemilihan secara voting untuk menentukan ketua Tanfidziah baik PCNU, PWNU dan PBNU ditiadakan.

 

Mekanismenya bagaimana? Dipilih oleh Ahwa yang jumlahnya bukan Sembilan. Namun ditambah menjadi 40 ulama. Sebagaimana jumlah muassis sebanyak empat puluh ulama (sumber kiai Makki Nashir). Kedua, jika mekanisme voting dipaksakan di Muktamar ke 35 mendatang, sangat berharap kepada ketua PWNU dan ketua PCNU untuk menggunakan akal sehat, bahwa ini adalah jamiyah kegamaan. Bukan tempat mencari kehidupan.

 

Euforia Muktamar ke 34 di Lampung jangan terulang lagi. Mengkondisikan dengan cara berangkat satu pesawat jangan sampai melupakan niat lurus para muktamirin. Ingat! Siapapun orangnya, jika berkhianat kepada NU, Syaichona Cholil, Mbah Hasyim, Kiai Asad dan para muassis lainnya-sebagaimana cerita kiai Asad waktu mengantarkan tongkat dan tasbih- akan hancur dengan sendirinya. Dan, hal itu sudah kelihatan bukti nyatanya.

 

Ketiga, kepada segenap elit politik jangan menjadi benalu untuk mempengaruhi pengurus PBNU. Silahkan bekerja sama, namun harus ada kode etik untuk menjadi rem agar tidak kebablasan. NU tidak menutup kerja sama, namun harus ada kejelasan maslahatnya. NU tidak menutup diri, tapi jangan melupakan jati diri. Kerja sama boleh, agar NU konsisten menjadi payung bagi segenap lapisan. Baik PBNU dan partai politik harus berjalan di rel masing-masing. Hal itu untuk menciptakan ruh kebangsaan semakin terasa bagi masyarakat Indonesia.

 

Sekali lagi, warga NU secara mayoritas sudah menunjuk Kiai Zulfa untuk berkenan menjadi pemimpin tertinggi di Jamiyah Nahdaltul Ulama. Penunjukan itu adalah aliran stimulasi yang berangkat dari bawah. Juga sebagai dorongan perbaikan moral ditubuh Jamiyah. Dan, NU itu adalah masyarakat bukan Rais Syuriyah maupun Tanfdziyah ansich. Mempertimbangkan aspirasi warga NU adalah ‘kewajiban’ bagi pengurus diberbagai tingkatan. Apalagi aspirasi tersebut berkenaan dengan kemaslahatan.

 

 *Adalah Alumni Pondok Pesantren Sidogiri. Wakil sekretaris PCNU Bangkalan. Sekjen Forum Bhindereh Nusantara (FORBHINU). Sekretrasi FKUB Bangkalan (2018-2020). Pengasuh Yayasan Raudaltul Ulum Palo. Penggagas organisasi SUBRO (Soliditas ulama Bersama Prabowo)

              

No More Posts Available.

No more pages to load.