Apa Kabar Islah PBNU, Gus Yahya “Ngeprank” Kiai Sepuh?

oleh -317 views

Oleh: *A Dhofir

Mungkin Kita Semua memiliki harapan yang sama. Menginginkan NU teduh dan utuh. Tidak ada dinamika apapun di NU. Semua berjalan lancar. Roda organisasi berjalan mulus. Hubungan antar personal pengurus guyub dan rekat. Tak ada sekat untuk terus ber inovasi demi NU. Itulah cita cita semua warga NU. Begitu juga pemerintah Indonesia. Berharap NU teduh dan bisa mengayomi semua lapisan.

 

Setelah pertemuan diberbagai pesantren; Ploso, Tebuireng dan Lirboyo sebanyak dua kali, berharap dinamika PBNU baik baik saja. Ditambah kemudian dikediaman Rais Aam, senyuman dari berbagai pengurus yang semula terlibat dalam caturan ‘konflik’ sangat terasa hangatnya. Tuntas!

 

Semua pengurus dari semua tingkatan berharap itu akhir dari gonjang ganjing di PBNU. Kiai sepuh sebagai perekat, bisa mengembalikan marwah NU ke jalur semestinya. Langit mendung, kini mulai cerah. Secercah harapan untuk islah direspon baik oleh Rais Aam sebagai pemegang kendali tertinggi di tubuh PBNU.

 

Akan tetapi harapan itu pupus dan ambyar. Gus Yahya yang semula merengek agar terjadi islah kini merusaknya. Arogansi dari watak aslinya muncul ke publik. Pura-pura islah adalah kamuflase dari jiwa Gus Yahya. Drama ‘membungkuk’ kepada masyayikh bagian dari orkestrasi nya untuk memantik simpati. Besoknya beredar flayer: Gus Yahya Sang penakluk badai. Seakan sudah selesai. Kini Gus Yahya berulah. Melanggar niat suci islah.

 

Sambutannya pada selasa 30 Desember yang disiarkan oleh  TV NU Online, memperkenalkan saudara Amin Said Husni sebagai Sekjen PBNU dan KH. Masyhuri Malik sebagai wakil ketua umum PBNU. Itulah mulanya kontroversi terjadi. Pidato Gus Yahya itu bisa menciderai semangat islah yang sedang dibangun untuk melanjutkan fatwa Kiai sepuh.

 

Manuver Gus Yahya itu sangat disayangkan. Sama halnya dengan membungkam forum Kiai sepuh. Tidak ada harganya. Apalagi hal itu diucapkan di forum dimana pemerintah dan PWNU serta PCNU PCNU Jawa Tengah hadir. Hardikan luar biasa kepada martabat Kiai sepuh. Gestur Gus Yahya sangat biasa. Seakan apa yang dikatakan sebagai justifikasi bahwa kepengurusan PBNU versi dirinya yang absolut. Sementara Pleno Rais Aam dianggap tidak memiliki legitimasi apapun.

 

Alih-alih mau menghormati keputusan jajaran Syuriyah, sekelas Forum Ploso, Tebuireng dan Lieboyo tak lepas dari pengkhianatan Gus Yahya. Ucapan taslim dan takdzim hanya dibibir saja. Bukan menusuk dalam benaknya. Yang pada akhirnya, ucapan blunder Keluar dari dirinya sendiri. Andai kita peka, tidak akan muncul forum forum suci untuk islah. Sebab pada akhirnya dirusak oleh Gus Yahya itu sendiri.

 

Itulah barangkali Allah membuka mata hati kita. Gus Yahya tanpa setingan sudah keluar dari ruang suci forum. Semula Gus Yahya dianggap sebagai sosok “suci” dan perlu dibela, kini semuanya terbongkar. Gus Yahya melanggar aturan yg dibuat sendiri.

 

Maka, kepada kepada siapapun yang kemaren semangat merajut islah nya sangat tinggi sekali, kini harus menata dan _mendaur_ kembali beberapa keputusan tersebut. Karena Gus Yahya sudah melukai semangat Islah itu sendiri. Jika manuver Gus Yahya ini dibiarkan oleh para masyayikh, atau para gus-gus yang memfasilitasi Islah kemarin, maka akan meruntuhkan martabat Kiai sepuh itu sendiri.

 

Sangat naif, jika Gus Yahya menjawab teguran Syuriyah PBNU mengenai sambutan itu dengan jawaban : “keceplosan” . Atau dengan jawaban: “editan”. Sangat tidak masuk akal. Sambutan sambil senyum senyum dan dengan lancar memperkenalkan jabatan jabatan sebelumnya dibilang ‘keceplosan’. Itu sudah ada niat agar eksistensi dirinya yang diakui oleh pemerintah. Bukan hasil Pleno Syuriyah

 

Harapan, semoga para Kiai sepuh; Jajaran Mustasyar, Syuriyah dan pengasuh pesantren mengambil sikap dari kejadian Ini. Sikap tegas ditunjukan. Bukan malah memaklumi dan tabayun seadanya. Jika senyap tidak ada tindakan, berarti merelakan forum islah itu dirobek oleh Gus Yahya. Dan, marwah Kiai sepuh menjadi runtuh.

 

Maka dengan pembacaan _Bismillah Tawakal tu Alallah_, “Saya mendukung jika Jajaran Syuriyah, Mustasyar dan pengasuh pesantren untuk memanggil Gus Yahya, sekaligus menyampaikan mosi tidak percaya. Dan yang paling urgen adalah, menyetujui keputusan Pleno tanggal 9 Desember tentang pemecatan Gus Yahya. Karena Gus Yahya secara terang benderang telah mengkhianati forum islah. Serta memberi kesan buruk kepada publik dengan adanya kerja sama kepada pendukung zionis”.

Semoga Gus Yahya dipanggil! Eksistensi beberapa forum yang digelar beberapa waktu yang lalu menjadi taruhan; antara serius dan tendensius.

_Wallahu A’lam_

 

*Penggerak Nahdlatul Ulama Bangkalan

No More Posts Available.

No more pages to load.