Kiai Zulfa, Demangan dan Muktamar

oleh -157 views

Oleh: Ahrori Dlofir*

Sangat tepat apa yang dilakukan oleh Kiai Zulfa dengan bersilaturrahim ke Ponpes Syaichona Cholil sekitar dua bulan yang lalu. Safari ‘tabarrukan’ dan nyambung sanad itu adalah ciri khas ulama NU. Secara hubungan esmosional, antara Kiai Zulfa dengan dzurriyah Mbah Cholil sangatlah akrab  sekali (mukholid). Hubungan itu dilandasi oleh komumikasi keilmuan melalui turots Syaichona Cholil. Sehingga antara kiai Zulfa dengan Demangan khususnya, adalah paket yang tidak bisa dipisahkan.

 

Kiai Zulfa ini adalah sosok ilmuan dan diplomasi ulung. Penyampainnya ketika interaksi sangat dialogis dan humanis. Sehingga apa yang keluar dari ucapannya merupakan ‘daging’ yang siap untuk dinikmati kapan dan dimanapun dibutuhkan. Kesederhanaan dalam penampilan adalah contoh yang diajarkan oleh para pendahulu di Jamiyah Nahdlatul Ulama.

 

Lalu apa kaitannya dengan Demangan? Pondok pesantren Demangan yang kini Bernama Pesantren Syaichona Cholil Merupakan Pesantren dimana para muassis Jamiyah Nahdlatul ulama menimba ilmu. Ada ratusan bahkan ribuan ulama Nusantara yang belajar ilmu pengetahun kepada syaichona Cholil. Anatar lain; Kiai Hasyim Asyary Tebuireng. Kiai Abd Karim Lirboyo (konon, kurang lebih 23 tahun di Demangan). Kiai Abd Wahab Hasbullah, Tambak Beras, KH. Asad Syamsul Arifin dan masih banyak lagi para tokoh lainnya. Beliau beliau inilah yang pada akhirnya banyak menelurkan para ahli ilmu sepeninggal Syaichona Cholil. Begitupun dengan ruh NU, yang sejatinya bermuara dari Demangan.

 

Ceritanya sangat masyhur, bagaimana gerakan spiritual dan isyarah akan berdirinya NU terkonsep dari tongkat dan tasbih. Inilah yang sering dilupakan. Seakan NU muncul begitu saja dan besar tanpa jerih payah. Parahnya, ada dominasi dominasi tertentu yang dimainkan oleh oknum tokoh yang mengklaim bahwa dirinya seorang yang merawat serta menjaga NU. Naif sekali.

 

Kiai zulfa sudah sangat tepat dalam hal ini. Sudah sowan ke Demangan, dan bermuwajahah langsung dengan sesepuh Bani Cholil yaitu Kiai Muhamad Faisol Anwar di kediamanya beliau Pondok Pesantren Alkholiliyah Annuroniyah, Demangan Timur. Harapan besar muncul, bahwa kiai Zulfa sejatinya sangat cocok dan pantas untuk menjadi ketua umum PBNU pada Muktamar yang akan datang.

 

Apapun bentuk suksesinya. Menilai Kiai Zulfa dari sisi kelimuan adalah sangat objektif. Karena kita sudah lelah dengan permainan permainan yang ditotonkan oleh oknum tokoh NU selama empat tahun terakhir. Berharap munculnya kiai Zulfa, sebagai oase di tubuh Nahdlatul ulama.

 

Kiai Zulfa tegas mengatakan; “Miqot saya dari Demangan” ini sangat luar biasa, tafa’ul dengan Isyarah tongkat dan tasbih yang berangkat dari Demangan menuju Jombang melalui kiai Asad Syamsul Arifin  bermuara menjadi Jamiyah besar Nahdlatul Ulama. Jamiyah terbesar didunia. Jika sudah Miqot Demangan, maka tidaklah heran kalau akhirnya restu itu juga datang untuk melegitimasi keberadaan kiai Zulfa untuk berkenan dicalonkan sebagai ketua umum PBNU di Muktamar ke 35 mendatang.

 

Akhiran, semoga Kiai Zulfa berkenan untuk dicalonkan pada Mauktamar yang insyallah tidak lama lagi digelar. Tentu harapan saya, Muktamar ke 35 ini diselenggarakan di Bangkalan, sebagai simbol dan merekahkan akar sejarah untuk menjemput abad kedua miladiyah dari Nahdlatul Ulama. Tajdid sangat perlu. Apalagi kita meyakini, bahwa tajdid itu sebagai bagian dari motivasi untuk terus semangat dalam mengabdi.

 

Seratus tahun lalu NU dimulai dari Demangan, Bangkalan. Maka tidak ada salahnya jika para masyayikh, pengurus NU dan warga NU dibelahan dunia menjemput seratus tahun berikutnya dimulai dari Bangkalan lagi. Dengan harapan aliran Barokah dari para muassis selalu menyertai kita semua. Amin..

 

*Alumni PP. Sidogiri

Wakil sekretaris PCNU Bangkalan

Sekjen FORBHINU (Forum Bhindereh Nusantara)

Pengasuh Yayasan Raudaltul Ulum Palo Bangkalan

No More Posts Available.

No more pages to load.