Satu Shof Bersama Kiai Zulfa 

oleh -144 views

Oleh: Ahrori Dlofir*

Kiai Makki Nashir pernah menyampaikan begini: “Saat ini, di Muktamar yang akan datang kita butuh sosok yang bisa mendesain Jam’iyah Nahdlatul Ulama dengan ornamen keilmuan, bukan permainan, serta organisatoris ala pesantren. Tidak masalah dibilang kolot. Namun sesuai dengan harapan umat” itulah sepenggal kata-kata dari salah satu dzurriyah Syaichona Cholil sekaligus ketua PCNU Bangkalan.

 

NU adalah organisasi besar. Didalamnya juga terdapat para ulama pengasuh pesantren dengan jumlah santri yang sangat banyak. Jadi, memimpin NU berarti ngopeni umat dan para santri. Jangan lupakan jati diri, bahwa NU berasal dari jendela pesantren dengan setumpuk lalaran nadzam alfiyah dan imriti, kemudian menjelma sebagai kekuatan bagi negeri ini.

 

NU memang tidak harus berkutat dengan keilmuan ansich. NU harus ada di pos-pos dimana umat membutuhkan sentuhan nilai-nilai spiritual dan bantuan ekonomi. Saya sepakat bahwa NU harus ada disetiap lini. Harus dapat memperjuangkan jamaah nya bukan hanya memperbaiki amaliah ibadah, namun kehidupan berbasis ekonominya juga harus diperbaiki.

 

Oleh karenanya, menjelang Muktamar ke-35 mendatang kita harus cermat dalam memilih pemimpin yang akan membawa NU lima tahun kedepan. Harus benar-benar mencari pimpinan yang lulus seleksi dari segi keilmuan. Karena NU adalah organisasi Ulama, tentu pemimpin harus punya integeritas dalam bidang ilmu agama. Selain itu harus lihai dalam berkomunikasi dengan siapapun, untuk kemaslahatan NU itu sendiri.

 

Tentu tidak terlalu berlebihan, jika diantara pengurus PBNU yang ada pada saat ini, Kiai Zulfa diantara sosok pas untuk memimpin PBNU. Jiwa kepemimpinan sangat melekat pada dirinya. Selaras betul dengan cita cita ulama pesantren. Hampir mayoritas pemangku pesantren, berharap betul Kiai Zulfa mempin NU. Artinya, para Masyayikh, pengasuh pesantren, Pengurus PWNU dan PCNU satu shaf untuk kiai Zulfa.

 

Patut dicurigai, pada saat bersamaan, misalnya, ada seorang tokoh tidak satu shaf dengan kiai Zulfa. Berarti karena menganggap Kiai Zulfa itu terlalu lurus. Saya sendiri sudah mendengar ‘sabda’ benar tapi digunakan untuk tidak baik. “kalau Kiai Zulfa orangnya tidak bisa diajak untuk berbicara empat mata”. Ini artinya kekhawatiran ini muncul bukan karena kiai Zulfa tidak mampu menahkodai NU, tapi takut posisi ‘basah’ tidak bisa dikompromi.

 

Sangat bersyukur, kiai Zulfa menyampaikan kepada saya beberap waktu lalu: “Saya harus menjaga marwah NU. Jangan tunduk kepada siapapun yang merugikan NU”. Itulah sikap tegas Kiai Zulfa. Adalah sangat tepat, jika arahan dari Ra Makki Nashir, bahwa keilmuan dan kepesantrenan harus menjadi tolak ukur dari pemimpin Nahdlatul ulama. Warna warni kepesantrenan harus diperlihatkan Kembali dikhalayak untuk memulihkan jati diri organisasi Nahdaltul ulama.

 

Kata Mbah Sahal: tak perlu dihargai, karena NU sudah berharga. NU itu berharga karena mempunyai komitmen tinggi. (Aula tahun 1993)

Tidak perlu bagi pemimpin NU untuk menyanjung pemerintah berlebihan sebagaimana yang pernah terjadi beberapa tahun terakhir. Memberi apresiasi sewajarnya. Malu mendengar pujian berlebihan apalagi dengan bahasa yang cukup lebay. Memuji sewajarnya, memberi saran harus tepat. Tidak perlu beretorika dengan Bahasa ngapusi; harus tegas dan objektif.

 

Berangkat dari berkembangnya fenomena akhir-akhir ini, tentu kita harus satu shaf mengantarkan Kiai Zulfa untuk diberi beban pengabdian, guna menjaga marwah organisasi Nahdlatul Ulama. Kepada para kiai, para Gus, sudah bukan waktunya lagi bermanuver hanya untuk mendapat ‘madu’ posisi incarannya. NU bukan hanya milik para kiai, tapi NU juga milik para santri. NU bukan milik orang kota, orang-orang desa juga merasa memilikinya. NU bukan hanya dominasi para Kiai, Gus dan Lora, tapi NU milik kita semua.

 

Kepada para ketua PWNU dan ketua PCNU, menjelang Muktamar, mari tatap dan cium nisan Maqbaroh Syaichona Cholil, Maqbaroh Mbah Hasyim, Maqbaroh Mbah Wahab, Maqbaroh Mbah Bisyri, Mabqrah Kiai Asad, Maqbaroh Kiai Nawawi, Maqbaroh Kiai Ridwan, dan para muassis yang lain. Pejamkan mata kita, bayangkan para muassis sedang mendoakan kita semua. Insyaallah dengan demikian, hal-hal menyimpang untuk menciderai kesakralan Muktamar akan hilang dalam pikiran dan benak kita.

 

*Alumni PP. Sidogiri

Wakil sekretaris PCNU Bangkalan

SEKJEN FORBHINU

Pengasuh Yayasan Raudlatul Ulum Palo Bangkalan  

 

No More Posts Available.

No more pages to load.