*Oleh:Ahrori Dlofir
Rapat pleno yang di pimpin oleh Prof Nuh pada tanggal 9-10 Desember 2025 di hotel Sultan menetapkan Kiai Zulfa menjadi PJ Ketua umum PBNU, menggantikan Gus Yahya yang sudah lebih dulu diberhentikan.
Ada pertanyaan dari sebagian aktivis NU baik ditingkat PCNU maupun PWNU: mengapa Kiai Zulfa menerima keputusan pleno untuk menjadi PJ Ketum PBNU? Kenapa kok tidak menunggu Muktamar saja? Apa mungkin Kiai Zulfa memang Haus akan kedudukan sebagai Ketua umum PBNU?
Saya akan menjawab satu persatu dari tiga pertanyaan tersebut.
Pertama, mengapa Kiai Zulfa menerima keputusan PJ Ketum PBNU? Iya, beliau menerima itu sebagai wujud untuk menjaga marwah NU serta sikap taat kepada jajaran syuriyah PBNU sebagai repsentatif ulama sepuh yang mempunyai otoritas diorganisasi Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Keputusan itu diterima dengan beban yang cukup berat. Apalagi NU sebagai ormas terbesar menjadi stagnan dan dicitrakan buruk akibat ulah dari oknum Pengurus Besar Nahdaltul Ulama empat tahun terakhir. Itulah barangkali alasan logis mengapa Kiai Zulfa menerima penunjukan PJ Ketum itu.
Cibiran dan cacian sempat saya dengar beberapa hari ini; baik secara langsung maupun di media sosial. Mulai dari yang sangat membenci Kiai Zulfa, sampai orang yang sangat mencintai. Semuanya membuly dan memojokan Kiai Zulfa. Saya husnudzan kepada mereka itu. Barangkali masih belum mengetahui informasi secara utuh, sehingga kabar tidak benarpun diterima tak ubahnya ‘wahyu’. Dititik inilah, perlu kita memahami secara konprenhesif terhadap apa yang terjadi. Sehingga dalam mengeluarkan pandangan tidak kabur, melainkan objektif. Jadi menerimanya kiai Zulfa terhadap jabatan PJ Ketum PBNU ini adalah dorongan untuk kemaslahatan NU.
Kedua, kenapa Kiai Zulfa tidak menunggu Muktamar saja?. Sebagai wakil Ketua umum PBNU, Kiai Zulfa sering turun ke PWNU, PCNU diseluruh Nusantara untuk memberi pencerahan kepada warga NU baik menganai keagamaan maupun keorganisasian. Jam terbang Kiai Zulfa yang begitu padat banyak manuai simpati dari berbagai lapisan; Pengurus NU, pengasuh Pesantren dan aktivis NU. Hal tersebut memaksa keadaan, bahwa Kiai Zulfa lebih dikenal khalayak dari pada beberapa pengurus yang lain. Itulah kenapa dikemudian hari banyak diantara pengurus PCNU dan PWNU meminta Kiai Zulfa untuk berkenan dicalonkan sebagai Ketua umum PBNU.
Dalam situasi yang begitu urgen, Kiai Zulfa tidak boleh bilang tidak siap. Jawaban yang pas Adalah; “Insyallah Saya berkenan, jika PCNU dan PWNU serta kiai sepuh merestui”. Setelah saya konfirmasi kepada kiai Zulfa, memang itu jawaban nya ketika ditanyakan soal desakan untuk maju di Muktamar.
Nah, jika kemudian saat ini beliau menerima jabatan PJ Ketum itu, adalah bagian dari tanggung jawab moral. Saya sangat ingat pesan via WhatsApp yang dikirimkan kiai Mustofa Aqil kepada kiai Zulfa , “Insyallah penjenengan bisa menjadi penyelamat organisasi” . Itulah kenapa kemudian kiai Zulfa menerima jabatan itu.
Waktu akan dimulainya rapat pleno, kiai Zulfa belum menemui Rais Aam. Hal itu dilakukan sebagai bentuk menjaga independensi atas keputusan Rais Aam dan jajaran Syuriyah yang lain. Juga bagian dari menjaga etika bahwa keputusan pleno disamping aturan Jam’iyah juga harus melalui proses bersih tanpa tendensi. Karena jika menemui Rais Aam sebelum dimulainya rapat, sangat erat kaitannya dengan sosok siapa yang akan menjadi PJ Ketum.
Kiai Zulfa tegas mengatakan: “tidak harus Saya”. Walaupun diluar sudah bisa ditebak, bahwa PJ Ketum adalah Kiai Zulfa, karena beliau merupakan Wakil Ketua umum satu.
Dan, sontak saja, keesokan harinya beberapa komentar konyol mulai menyerang kiai Zulfa. Dan, alhamdulillah kiai Zulfa tidak menggunakan Buzzer dan membayar media untuk menyerang balik.
Ketiga, jangan jangan kiai Zulfa haus kekuasaan?. Tidak! Sama sekali tidak. Saya pernah mendengar langsung waktu kiai Zulfa mengisi PMKNU angkatan III PWNU Jatim. Beliau menyampaikan:”Wakil Ketua umum ini adalah amanah tertinggi yang dijabat saya. Sama sekali tidak ada pikiran untuk menjadi Ketua Umum PBNU ” Itulah kalimat yang sampai detik ini belum Saya Lupakan.
Bahwa pada kemudian hari menggelinding nama kiai Zulfa, hal itu wajar. Gerakan dari pada pegiat ilmu pengetahuan sangat intens untuk mendorong Kiai Zulfa untuk berkenan dicalonkan di Muktamar ke 35 mendatang. Gayung bersambut, para pengasuh Pesantren sangat simpatik terhadap Kiai Zulfa.
Para pengurus NU di Masing Masing daerah sudah semakin solid akan mengantarkan Kiai Zulfa untuk menjadi Ketum PBNU. Jangankan pengurus PWNU, pengurus ranting pun sangat satu sepakat jika Kiai Zulfa dicalonkan pada Mukatamar ke 35. Ini menandakan, jika eksestensi Kiai Zulfa, dengan kapasitas keilmuan yang dimilliki sudah waktu nya untuk menjadi pemimpin tertinggi di Jamiyah Nahdlatul ulama.
Maka, sangat ironi jika kemudian ada yang menuduh Kiai Zulfa haus jabatan untuk menjadi Ketua Umum PBNU. Sekali lagi Saya tegaskan: ini adalah aspirasi warga NU dan pengurus NU di berbagai daerah.
Alakulli hal, Kiai Zulfa sama sekali tidak pernah terbesit untuk menduduki jabatan PJ ketum PBNU. Amanah PJ Ketum PBNU ini adalah ‘jamu’ untuk kemaslahatan NU dimasa yang akan datang. Untuk menjaga marwah NU dari oknum pembangkang. Untuk menghindari citra buruk dari siapapu yang menganggap NU sebagai lahan untuk mencari keuntungan.
بإجبار يا قهار
*Alumni PP. Sidogiri
Wakil Sekretaris PCNU Bangkalan
Sekjen FORBHINU
Pengasuh Yayasan Raudlatul Ulum Palo Bangkalan







