Sumenep, Posmedia.id,- Berita dugaan penggelembungan data pasien BPJS kesehatan di puskesmas Masalembu hingga ribuan serta mendapatkan berbagai tanggapan dan komentar dari netizen di akun resmi media sosial TikTok milik posmedia.id.
Dari sekian tanggapan dan komentar tersebut ada yang menarik untuk di ulas, salah satunya komentar dari akun bernama @SEMUT ITEM, dia mengatakan bahwa penggelembungan data kunjungan dalam rangka mengamankan dana kapitasi yang dihasilkan oleh puskesmas.
“bukan nyulap data atau jumlah peserta, tp nyulap data kunjungan peserta BPJS di PKM, Krn data kunjungan mempengaruhi kapitasi yg d terima PKM, JK kurang dari target kapitasi turun,” tulisnya.
Berbeda dengan komentar yang diberikan oleh akun bernama @Panda, dirinya bercerita bahwa pernah punya pengalaman pribadi bahwa riwayat kunjungannya muncul terus setiap bulan dan menggunakan BPJS kesehatan walaupun faktanya yang bersangkutan hanya berkunjung satu kali ke puskesmas tersebut.
“skrg mulai cek mobile jkn deh, menu info rwyat plynan. dlu gue prnh ke pskesmas 1x doang, ngmbil bku pink pke bpjs. tpi rwyt ny ada trus tiap bln pke bpjs. pdhl tgl sgtu gue gak ad konsul atau ke puskesmas. Dan gue kontrol slu ke klinik pke uang pribadi. btw itu pas di jkt,” tulisnya juga.
Komentar lain juga datang dari akun bernama @snowwwwhite, dia mengatakan bahwa tindakan menyulap data kunjungan pasien sudah biasa dilakukan agar reputasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama tetap baik.
“Rahasia umum, kalo gak disulap ya fktp merah. reputasi buruk fktp,” tulisnya.
Ada juga yang mengatakan bahwa sulap menyulap data dilakukan agar pasien bisa di klaim BPJS.
“kalau nakes tdk mau mnyulap data maka gelombang komplain smakin tinggi..krn nakes sering nyulap agar pasien bs d klaim bpjs,” tulis akun bernama @Capucino Kopi.
Komentar lainya juga datang dari akun bernama
@Adikulaa, dia mengatakan bahwa yang disulap bukan data peserta BPJS, melainkan data kunjungan peserta BPJS untuk mencapai target.
“Bukan di sulap kk tp di buat kunjungan sehat semua krn hrs ada target klo ga sesuai, puskesmas ga boleh rujuk kl kaya gitu di amuk masyarakat,” tulisnya.
Ada juga akun bernama @Z Bachri membantu memberikan penjelasan bahwa menurutnya kunjungan langsung ke puskesmas boleh sedikit tapi menurutnya ada kunjungan lain yang tidak langsung seperti kunjungan posyandu balita, lansia dan lainnya.
“mungkin bisa bantu jawab kakak..
kunjungan ke puskesmas boleh dikit..
tp puskesmas kn punya jaringan diwilayah kerja desa2nya.disana juga ada kunjungan posyandu balita,lansia dan posbindu,” tulisnya membantu menjelaskan.
Akun bernama @rois juga menjelaskan bahwa data kunjungan ada dua kategori yaitu kunjungan sehat dan kunjungan sakit.
“entry itu ada kunjungan sehat dan sakit. kunjungan sakit itu yg datang ke pkm. kunjungan sehat itu misal posyandu, posbinsu dll. semua termasuk di angka kontak (target BPJS bulanan),” tulisnya.
Bahkan ada yang mengaku serba salah, seperti yang ditulis akun bernama @iweeYOOD.
“maju kena,mundur kena,kerja dan tanggungjawab berat, gaji minim, rawan di audit BPK/KPK, rawan di tuntut pasien dan masyarakat kalo2 ada yg missed, masyarakat nuntut lebih krn sdh bayar iuran BPJS,” tulisnya.
Untuk diketahui seperti yang telah ditulis sebelumnya bahwa Puskesmas di Pulau Masalembu Kabupaten Sumenep diduga melakukan penggelembungan data pasien BPJS.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari narasumber yang sengaja identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa kunjungan yang hanya ratusan perbulan disulap menjadi ribuan.
“Kunjungan yang per bulan ke puskesmas hanya kurang lebih 200 orang, sedangkan yg dientri ke BPJS itu 3000 lebih,” ucapnya Rabu (04/12/24).
Dirinya menerangkan bahwa petugas menggunakan data palsu untuk memenuhi kuota ribuan tersebut.
“Itu semua ngarang, asal punya BPJS di entri,” tambahnya.
Bahkan dirinya yakin puskesmas tidak akan memiliki data rekam medis ribuan pasien tersebut.
“Kalau puskesmas diminta data itu tidak akan punya, itu kan pastinya dientri biasanya dari perawatnya kan nyetorkan data, tapi perawat nya tidak ngajukan data, yang kerja hanya tim entri saja,” tegasnya seraya menunjukkan beberapa berkas bukti-bukti pemalsuan data pasien tersebut.
Tidak hanya diduga menyulap data pasien BPJS, bahkan Puskesmas Masalembu juga diduga tidak profesional dalam melayani masyarakat karena petugasnya diketahui jarang masuk kantor. Hal tersebut disampaikan langsung oleh warga setempat yang sengaja tidak disebutkan identitasnya.
“Iya kapusnya sering bolos,” ucapnya seraya menunjukkan vidio rekaman puskesmas dalam keadaan kosong tanpa berpenghuni Jum’at (06/12/24).
Menurutnya puskesmas apapun alasannya tidak boleh kosong, apalagi itu puskesmas satu-satunya yang ada di kecamatan Masalembu.
“Puskesmas harus ada yang piket,” tuturnya lagi.
Parahnya lagi, akibat dari kepala puskesmas yang jarang masuk mengakibatkan tidak adanya pengawasan terhadap petugas yang ada di puskesmas tersebut.
“Kurangnya kontrol dari pimpinan sehingga puskesmas sering kosong,” tambahnya lagi.
Dirinya berharap ada pengawasan dan tindakan tegas dari dinas setempat.
Dirinya juga membantah keterangan dinas kesehatan kabupaten Sumenep yang mengatakan bahwa saat pelayanan poli tutup petugas ada di ruang UGD.
“Itu tidak benar, saat vidio diambil ruang UGD juga kosong tidak ada petugas,” pungkasnya.
Tim redaksi posmedia.id sudah mencoba menghubungi kepala Puskesmas Masalembu untuk mengkonfirmasi, namun hingga berita ini ditulis belum ada respon apapun. (Red)